
Semakin bertambah usia, saya mulai sadar bahwa pertanyaan tentang hidup bukan lagi hanya “saya mau menjadi apa?”, tetapi “saya ingin menjalani hidup seperti apa?”
Ada satu kalimat yang mungkin sudah sering kita dengar:
“What doesn’t kill you makes you stronger.”
Dulu saya melihat kalimat ini sebagai sesuatu yang sederhana. Setiap kesulitan yang kita lewati akan membuat kita menjadi lebih kuat.
Tapi semakin bertambah usia, saya mulai mempertanyakannya.
Apakah setiap hal yang tidak membunuh kita benar-benar membuat kita lebih kuat?
Mungkin tidak.
Ada pengalaman yang memang membuat kita lebih tangguh. Ada kegagalan yang mengajarkan sesuatu. Tetapi ada juga pengalaman yang hanya membuat kita lelah, kecewa, atau meninggalkan luka yang membutuhkan waktu untuk pulih.
Dari situ saya mulai berpikir bahwa mungkin tujuan hidup bukan hanya tentang menjadi lebih kuat.
Mungkin kita juga perlu menjadi lebih sadar.
Menjadi Sadar terhadap Diri Sendiri.
Menjadi Sadar terhadap Diri Sendiri
Menurut saya, salah satu bentuk kedewasaan yang paling penting adalah kemampuan untuk melihat diri sendiri dengan jujur.
Bukan hanya tahu apa yang kita inginkan, tetapi juga berani bertanya:
“Kenapa saya menginginkan ini?”
Apakah karena memang saya menginginkannya?
Atau karena saya ingin diakui?
Apakah saya mengejar jabatan karena saya menikmati pekerjaannya?
Atau karena saya ingin merasa bahwa saya lebih sukses dibandingkan orang lain?
Apakah saya membeli sesuatu karena benar-benar membutuhkannya?
Atau karena saya ingin membuktikan bahwa saya sudah berhasil?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini membawa saya pada satu hal yang menarik: self-awareness.
Semakin kita sadar terhadap diri sendiri, semakin kita bisa membedakan antara apa yang benar-benar kita inginkan dan apa yang hanya didorong oleh ego, nafsu, atau ekspektasi orang lain.
Dan menurut saya, itu bukan hal yang mudah.
Karena terkadang orang yang paling sulit kita kenali adalah diri kita sendiri.
Ego, Nafsu, dan Keinginan untuk Membuktikan Diri
Saya juga mulai menyadari bahwa ego dan nafsu sering kali menyamar sebagai ambisi.
Kita ingin mendapatkan sesuatu.
Kita ingin terlihat berhasil.
Kita ingin memiliki lebih banyak.
Kita ingin mendapatkan pengakuan.
Tidak ada yang salah dengan ambisi.
Yang menjadi menarik adalah ketika kita mulai bertanya:
“Saya sedang mengejar ini karena memang penting bagi hidup saya, atau karena saya ingin membuktikan sesuatu?”
Menurut saya, pertanyaan tersebut bisa mengubah banyak keputusan.
Karena pada akhirnya, kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan tetapi tetap merasa kosong.
Kita bisa mendapatkan jabatan tetapi kehilangan waktu.
Bisa mendapatkan uang tetapi kehilangan kesehatan.
Bisa mendapatkan pengakuan tetapi kehilangan ketenangan.
Dan di titik tertentu, kita mungkin bertanya:
“Sebenarnya saya sedang membangun kehidupan saya, atau sedang membangun citra tentang kehidupan saya?”
Kebahagiaan atau Kebermaknaan?
Kemudian muncul pertanyaan yang lebih besar.
Mana yang lebih penting: bahagia atau bermakna?
Kebahagiaan bertanya:
“Apakah saya menikmati hidup saya?”
Sedangkan kebermaknaan bertanya:
“Untuk apa saya menjalani hidup ini?”
Keduanya ternyata tidak selalu berjalan bersamaan.
Menjadi orang tua, misalnya, tidak selalu menyenangkan.
Ada hari ketika kita lelah.
Ada hari ketika kita kehilangan waktu untuk diri sendiri.
Ada kekhawatiran dan tanggung jawab yang terus bertambah.
Tetapi semua itu bisa terasa sangat bermakna.
Di sisi lain, seseorang bisa memiliki kehidupan yang nyaman dan menyenangkan tetapi tetap merasa ada sesuatu yang kurang.
Namun saya juga tidak percaya bahwa kita harus menderita untuk mendapatkan kehidupan yang bermakna.
Penderitaan bukanlah syarat dari kebermaknaan.
Kita tidak perlu membuat hidup menjadi sulit hanya agar merasa bahwa hidup kita berarti.
Menurut saya, makna seharusnya menjadi kompas, bukan penjara.
Kalau Suatu Hari Saya Berusia 70 Tahun
Ada satu cara berpikir yang belakangan ini cukup sering saya gunakan.
Saya membayangkan diri saya berada di usia 70 tahun.
Saya melihat kembali hidup saya.
Pada usia tersebut, apakah saya masih akan terlalu peduli dengan jabatan yang pernah saya miliki?
Dengan berapa banyak orang yang menganggap saya sukses?
Dengan mobil apa yang pernah saya kendarai?
Atau dengan seberapa cepat karier saya berkembang?
Mungkin sebagian masih penting.
Tapi saya membayangkan ada hal-hal lain yang jauh lebih besar.
Apakah saya hadir untuk keluarga saya?
Apakah hubungan saya dengan pasangan tetap baik?
Apakah saya melihat anak saya tumbuh?
Apakah saya menjaga kesehatan ketika masih memiliki kesempatan?
Apakah saya punya orang-orang yang bisa saya hubungi ketika saya membutuhkan mereka?
Apakah saya pernah memberikan sesuatu kepada orang lain?
Dan mungkin pertanyaan paling besar:
“Apakah saya benar-benar menjalani hidup saya sendiri?”
4/10/2026
Penyesalan yang Datang Terlambat
Saya sangat menyukai sebuah konten yang membahas seputar ini, karena hal tersebut memberikan saya sebuah bayangan atau visi kedepan tentang kondisi yang dialami oleh seseorang.
- Wish i Knew in my 20s/30s/40s
- Things I Wish I Knew Before Turning 40
- What I Wish I Knew Before I Got Married
- What I Wish I Knew Before Having Kids
Namun, hal tersebut hanya sebagian kecil saja yang membuat video/postingan atas topik tersebut. Saya tidak tahu apakah semua orang yang berusia 50 tahun memiliki penyesalan yang sama.
Tetapi saya membayangkan beberapa penyesalan yang mungkin muncul.
Terlalu banyak bekerja ketika anak masih kecil.
Terlalu takut mengambil kesempatan.
Terlalu sibuk mengejar uang.
Terlalu lama hidup berdasarkan ekspektasi orang lain.
Mengabaikan kesehatan karena merasa masih muda.
Atau terlalu sibuk membangun masa depan sampai lupa bahwa masa depan itu sebenarnya sedang dibangun dari hari-hari yang sedang kita jalani sekarang.
Karena itu, saya mulai menyukai pertanyaan ini:
“Kalau saya tidak melakukan ini sekarang, apakah suatu hari nanti saya akan menyesal?”
Bukan berarti kita harus selalu mengambil risiko.
Tetapi pertanyaan ini membantu kita melihat sesuatu dari perspektif yang lebih panjang.
Mungkin Inilah Proses Menuju Dewasa
Saya mulai berpikir bahwa menjadi dewasa bukan berarti kita sudah memiliki semua jawabannya.
Justru mungkin sebaliknya.
Semakin dewasa, kita semakin sadar bahwa banyak hal tidak memiliki jawaban yang sederhana.
Kita belajar mengatakan:
“Saya tidak tahu.”
Kita belajar mengubah pikiran.
Kita belajar mengakui kesalahan.
Kita belajar bahwa tidak semua pertarungan harus dimenangkan.
Dan kita belajar bahwa berhenti bukan selalu berarti menyerah.
Kadang berhenti adalah cara untuk memastikan kita masih berjalan ke arah yang benar.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Ingin Saya Bangun?
Saya tidak tahu seperti apa hidup saya di usia 60 atau 70 nanti.
Saya juga tidak tahu apakah semua keputusan yang saya ambil hari ini akan menjadi keputusan yang benar.
Dan saya tidak perlu mengetahui semuanya di hari ini.
Yang bisa saya lakukan adalah membangun hidup dengan cukup sadar untuk terus mengevaluasinya.
Menjaga kesehatan.
Menjaga keluarga.
Membangun kemampuan.
Mengelola uang.
Mengejar sesuatu yang berarti.
Dan sesekali berhenti untuk bertanya:
“Apakah hidup yang sedang saya bangun hari ini adalah hidup yang suatu hari nanti akan saya syukuri?”
Mungkin itulah Life Map yang sebenarnya.
Bukan peta yang memberitahu kita harus berada di mana pada usia 27, 30, atau 40.
Tetapi sebuah kompas yang membantu kita tahu ke mana kita tidak ingin kehilangan arah.
Karena pada akhirnya, mungkin hidup yang baik bukanlah hidup tanpa penyesalan.
Melainkan hidup yang ketika suatu hari kita melihatnya kembali, kita bisa berkata:
“Saya tidak menjalani semuanya dengan sempurna. Tapi saya benar-benar menjalani hidup apa yang saya rasa benar menurut diri saya.”
Disclaimer
Tulisan ini bukan tentang bagaimana menjalani hidup dengan benar. Saya juga masih mencari jawabannya.
Ini hanya catatan dari seseorang yang sedang belajar memahami hidup, di usia ketika ambisi masih besar, tetapi mulai sadar bahwa waktu, keluarga, kesehatan, dan makna tidak boleh terus-menerus menjadi sesuatu yang ditunda.
Leave a comment